Anak Bukan Miniatur Orang Dewasa
oleh Admin Selasa, 28 Agustus 2018 Time
Anak Bukan Miniatur Orang Dewasa

Oleh: Fitriani F.Syahrul, MSi, Psikolog


Sekarang musim mangga.  Jika membeli buah mangga kita tentunya lebih suka yang matang di pohon, yang cirinya antara lain memiliki getah mangga sebagai tanda bahwa buah tersebut betul-betul matang alias bukan karbitan. Kenapa? Karena buah yang matang secara alamiah manis rasanya.


Sekarang mari kita bayangkan perkembangan anak-anak kita yang belum aqil-baligh, dengan  metafora buah mangga tadi.  Apakah kematangan ananda bersifat karbitan atau alamiah? Bagaimana kita mengetahuinya?


Perkembangan yang penting pada setiap tahapan usia, dapat menjadi acuan kita dalam mengevaluasi tumbuh kembang ananda. Perkembangan ananda sejak usia  1 bln hingga 12 tahun (sebelum aqil baligh) dapat kita bagi ke dalam beberapa fase: bayi (mulai lahir-1 tahun),  batita (1-3 thn), pra sekolah (4-6 tahun), usia sekolah dasar (kelas 1 SD sampai mejelang aqil baligh). Pada fase bayi, yang diutamakan adalah perkembangan fisik dan kesehatan. Sementara pada  fase batita terjadi perkembangan bahasa yang pesat serta pengenalan warna dan bentuk. Orientasi  ananda sejak usia bayi hingga batita adalah dirinya dan orangtuanya, serta gurunya (jika ia mulai bersekolah).  Sedangkan pada masa pra sekolah  anak mulai dapat menyesuaikan diri dengan teman, belajar untuk mandiri, serta mulai mengenal  konsep  dasar akademik (membaca, menulis, berhitung).


Masa usia sekolah dasar ditandai dengan minat dan atensi ananda terhadap pengetahuan dan kegiatan membaca-menulis. Di samping itu juga terjadi pengenalan emosi diri, perkembangan otot dan gerak dalam suatu aktivitas bermain bersama teman-teman serta pengenalan aturan kelompok.


Di samping itu semua, kita tidak boleh lupa bahwa kebutuhan utama anak-anak adalah bermain. Melalui bermain, anak-anak menemukan kebahagiaannya dan mereka akan belajar banyak hal: mulai dari penyesuaian diri, mengolah emosi, persiapan akademik, hingga budi pekerti.


Penting untuk diperhatikan, bahwa secara umum masing-masing perkembangan itu akan berkembang pesat pada jenjang usia di setiap tahapan  tersebut, atau disebut sebagai masa kritis perkembangan anak. Terjadi kematangan (maturasi)  perilaku yang khas pada setiap masa kritis tersebut .  Jika stimulasi tidak dioptimalkan pada masing-masing usia kritis tersebut, maka usia anak akan berlalu begitu saja.  Namun jika stimulasi terlalu dini diberikan, maka ananda akan mudah bosan atau akan keletihan, atau terlalu cepat dewasa sebelum waktunya. 


Fenomena anak-anak sekarang memprihatinkan.  Masih di TK saja anak sudah ditargetkan pandai membaca dan menuls, sehingga kegiatan bermain yang menyenangkan seolah tidak dianggap penting dan tergantikan dengan aktivitas latihan membaca dan menulis yang terlalu banyak.  Memasuki  SD anak-anak mulai disibukkan dengan target nilai di sekolah yang belum tentu sesuai dengan kemampuannya,  sehingga masih SD saja sudah harus ikut bimbingan belajar.. lalu kapan lagi ia sempat bermain?


Hal lain, banyak kontes lagu yang pesertanya anak-anak tapi  mereka menyanyikan lagu orang dewasa yang temanya percintaan. Stok lagu anak juga masih yang dulu-dulu, mungkin sudah kalah menarik dibanding lagu-lagu orang dewasa.


Puncak keprihatinan saat ini adalah ketika anak mudah mengaskses berbagai hal (dengan kontrol yang minim atau bahkan tanpa control) melalui gadget/hp-nya. Games yang penuh dengan kekerasan menjadi aktivitas sehari-harinya. Mereka terlalu dini mengetahui berbagai hal terkait seksualitas atau dapat dengan mudah melihat pornografi dan pornoaksi.


Sudah saatnya kita sebagai orang tua maupun guru mengembalikan kondisi anak-anak kita kepada fitrahnya,  yaitu anak-anak yang hidup dalam dunia cerianya, mencapai perkembangan yang sesuai dengan usia dan kebutuhannya, mempertahankan dan mengembangkan kebaikan pada dirinya, melalui  kasih-sayang tanpa syarat serta kontrol sesuai porsinya.