Cerita Untuk Sahabat Lentera Insan
oleh Admin Selasa, 22 Agustus 2017 News
Cerita Untuk Sahabat Lentera Insan

Cerita saya tentang  SD IT Lentera Insan

    Sahabat, ini cerita kami tentang sekolah TK-SD untuk putri 1st saya, Aita. Dari TK-SD sekolah di Lentera Insan, meskipun pernah 1 tahun saya sekolahkan di Jogja karena menunggu usia sampai >6thn untuk masuk SD. Sekolah ini adalah sekolah inklusi, dalam 1 kelas ada 2 anak berkebutuhan khusus (ABK). Tidak jarang komentar yg bernada tidak sepakat saya dengar dari kawan2 saya saat saya cerita tentang sekolah ini, mulai dari “apa tidak ingin anak berkompetisi dg kawan2ya yg berprestasi?; apa tidak takut terpengaruh pola belajarnya dlsb…. 
    Hmmm..baiklah saya ceritakan sebagian tentang sekolah ini, kalau mau tau lebih lanjut silahkan survey sendiri. Sekolah ini memang terkenal sebagai sekolah yang menerima siswa apapun keadaan dan kondisinya. Alhamdulillah salah satu alumni bisa menjadi juara olimpiade fisika. Googling saja nama Gerry Windiarto Muhammad Dunda. Saya share sedikit programnya di wall saya ini:

1. SDIT : Sekolah ini masuk dalam jaringan Sekolah Islam Terpadu, jadi secara kurikulum mengacu pada Diknas RI dan afiliasi dengan JSIT. Meskipun hafalan Quran kalah banyak dibanding sekolah seperti Al-A*h*r atau N*ru* F*kr*. Tetapi disini lebih mengedepankan pemahaman dan pemikiran. Sederhanya gini..Wudhu itu mengulang 3x..tetapi anak2 ini diberikan pemahaman wudhu itu membasuh 1x, 2x atau 3x, anak2 akan tahu jika dia berada pada tempat yang kurang air akan wudhu cukup dengan 1x membasuh saja. 

2. Di Sekolah ini anak2 belajar dengan nyaman, sebelum masuk kelas mereka biasa bermain kelompok dulu, futsal, basket, atau yg lain. Sehingga perkembangan mereka sesuai dengan perkembangan jiwa anak2nya. Untuk akademik memang tidak dituntut untuk mendapat nilai yg tinggi, tetapi lebih mengajarkan karakter tentang rasa ingin tahu, rasa ingin belajar dan karakter untuk belajar Mandiri. Sehingga anak2 sudah tidak harus selalu diingatkan untuk belajar, mereka akan tahu kebutuhan materi apa yang akan dipelajari. 

3. Empathy dan Kerjasama.. 2 hal ini sejujurnya adalah kelebihan bangsa Indonesia yg sudah mulai luntur. Karena satu kelas dengan ABK anak2 ini meiliki empathy melihat kawan2nya, dan ABK  pun juga bisa belajar dengan baik karena dia tidak merasa berbeda dengan kawan2 lainya. Dengan pengajaran yg tepat anak2 ABK ini juga mampu menerima pelajaran dengan baik. Program yg jarang ada di sekolah lain adalah Tutor sebaya, anak2 yg nilai akademik tinggi akan membantu mengajar teman2nya, dengan Bahasa yg sama anak2 ini mampu menjelaskan matematika ke kawan2ya dan mengangkat nilai matematika dari semula 20-30 menjadi 80. Empathy anak juga terlihat, ketika melihat orang yg mungkin tidak normal mereka akan dengan kalem mengajak berbicara tanpa sedikitpun keluar komentar yg bisa menyakiti lawan bicara, contohnya: kok orangnya pendek, kok kepalanya botak dlsb..tidak akan keluar dari pembicaraan anak2 ini. 

4. Kemandirian dan leadership. Setiap hari mereka bergantian menjadi leader, dan group leader untuk memimpin kelas, menyiapkan kelas, bersih2, head counting etc. Anak2 juga disiapkan untuk Mandiri, mencuci tempat makan bekal mereka dan belajar kemandirian lain seperti yg diajarkan di Boarding School atau Pesantren. 
5. Prestasi sekolah, beberapa orang tua memang senang dengan Prestasi yang terlihat seperti lomba nyanyi, beladiri, olahraga, hafalan Quran dan Tilawati. Saya Pribadi justru melihat prestasi Intangible yg didapat sekolah ini. Ketika anak bisa antri dengan tenang, ketika anak bisa menghormati org yg sedang berbicara, ketika anak bisa bekerjasama, ketika berdiri di sisi kiri saat naik escalator untuk memberikan kesempatan orang yg sedang buru2..itu merupakan prestasi Intangible yg lebih bermakna dan bekal untuk kehidupan dewasanya dibanding prestasi Tangible. Tetapi bukan berarti prestasi beladiri menari dll dilupakan, sekolah ini juga aktif mengikuti lomba2 yg diadakan karena mereka tahu..anak2 itu naturenya punya jiwa kompetisi yang harus diolah juga dan tak jarang mereka pun sering mendapat predikat juara. Di sekolah ini tidak tertulis ranking, dan nilai hasil belajar tidak hanya sekedar angka-angka, tetapi juga disebutkan dengan detail pada sub pokok bahasan apa yang masih kurang atau lebih, sehingga kemampuan anak itu dipetakan dengan baik. 
Dengan banyaknya pilihan yang ditawarkan setiap sekolah, orang tua bisa memilih sekolah mana yang cocok untuk anaknya. Di Akhirat nanti…yg ditanya dalam hal pendidikan anak bukan gurunya, tetapi orang tuanya. Jadi wajib bagi kita sebagai ortu untuk mendidik anak2 kita dengan baik. Founder sekolah ini adalah Ibu Hj. Fitriani F. Syahrul, seorang Doktor di bidang Psikologi yang pernah mendapatkan penghargaan Inclusive Educational Award dari Mendiknas. 

Salam Hormat, Heru TW