Kata-katamu Emas, Nak
oleh Admin Senin, 02 September 2019 Goresan Lentera Insan
Kata-katamu Emas, Nak

Namanya Alvino Kaysan Moisca. Ananda putra pertama dari dua bersaudara. Aku bertemu dengannya, ketika ananda duduk di kelas 2. Sebelumnya, aku belum pernah mendapatkan kesempatan memegang anak spesial. Ini menjadi tantangan tersendiri bagiku. Bukan lewat kata-kata dia menyampaikan sesuatu, tetapi lewat gerak-geriknya atau lewat gestur tubuhnya. Hanya beberapa kata yang ananda gunakan, itu pun kata-kata yang singkat dan sederhana. Untuk mendekatinya perlu waktu satu minggu bagiku. Setiap aku dekati, dia selalu menghindar, seolah tidak mau didekati. Bahkan, ananda tidak mau melihat ke arahku. Aku tahu ananda memang memiliki hambatatan dalam berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Ananda juga sulit untuk melakukan kontak mata. Satu gerakan khas yang dimiliki ananda, yaitu berputar seperti helikopter.

img-1548732127.jpg

Setelah seminggu, baru aku bisa mengajaknya berinteraksi, walaupun hanya dengan kontak mata. Aku pun mulai bisa mengajaknya bicara. Namun, ananda belum banyak bicara. Awalnya ketika didekati ananda pasti pergi. Dalam beberapa kesempatan, ananda menunjukkan ekspresi dirinya dengan impulsif, terutama saat ananda merasa dirinya tidak nyaman dengan kehadiran orang lain. Alvino Kaysan Moisca, anak yang unik tapi benar-benar membuat penasaran karena ingin sekali mendekati dia dan bisa berbicara banyak dengannya. Aku juga ingin dia bisa berbicara menggunakan kalimat yang lebih lengkap. Aku membuat program pendidikan individual untuk Vino. Program pendidikan individual (PPI) inilah yang menjadi kelebihan dari SD Lentera Insan. Sebab, PPI membantu guru siswa istimewa (gisma) untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).


Program inilah yang aku aplikasikan untuk meningkatkan kemampuan ananda. Salah satu programnya adalah ananda dapat mengungkapkan sesuatu dengan kalimat yang lengkap. Lalu, setiap hari aku melatih dia agar bisa menggunakan kalimat yang lebih lengkap ketika mengungkapkan sesuatu. Awalnya aku meminta ananda berbicara jika ingin izin ke kamar mandi, menginginkan atau mengungkapkan sesuatu. Walaupun hanya kalimat sederhana, tetapi tidak sesederhana menurutnya.


Mulai dari bicara dua sampai tiga kata, seperti “bu Aliyah, sudah” atau “bu Aliyah, pipis”. Program yang aku berikan membuahkan hasil yang membanggakan, akhirnya di semester 1 di kelas 2, ananda berhasil mengungkapkan sesuatu dengan kalimat yang lebih lengkap, seperti “bu Aliyah, Vino mau pipis”. Alhamdulillah, hal ini tentunya menjadi kebanggaan bagiku sebagai guru yang baru berkecimbung di dunia pendidikan inklusif. Dan sangat bahagia, ketika ibunya pun bercerita bahwa sekarang ananda sudah bisa berkomentar tentang sesuatu. Pada awalnya ananda hanya diam saja atau berkata tidak, iya. Sekarang, sudah bisa mengomentari sesuatu.


Perkembangan ananda tentunya tidak serta merta hanya di sekolah. Dukungan orang tua di rumah tentunya, akan meningkatkan perkembangan ananda. Hal tersebut juga terjadi dalam perkembangan Vino. Sinergitas sekolah dan rumah banyak membantu Vino berhasil mencapai program yang dibuat. Ibunya termasuk orang tua yang sangat mendukung perkembangan ananda. Baik dalam akademik maupun sikap ananda. Di rumah, ibunya selalu melatih ananda berbicara. Ibunya bercerita, suatu hari ketika ananda berada di lantai atas rumahnya, ananda memanggil ibunya dan berkata, “Mami.. mana celana dalam Vino, tidak ada”. Ibunya terkejut dan berkata dalam hati, wah sudah bisa komentar ni, banyak juga bicaranya, biasanya tidak.


Mendengar ibunya bercerita seperti itu, aku sangat bahagia. Aku merasa program yang aku berikan berjalan dengan baik. Target aku pun sekarang lebih, aku ingin ananda menggungkapkan sesuatu dengan kalimat yang lengkap bukan hanya lewat lisan, tetapi tulisan juga. Karna ananda ketika menulis masih ada beberapa kata yang hilang dan tidak menggunakan kata sambung. Kalimat yang ditulisnya menjadi tidak lengkap.


Kini, ananda duduk di kelas 3. Ananda semakin lancar berbicara banyak hal, diantaranya ananda selalu bertanya setiap ada pelajaran atau hal yang menurutnya menarik tetapi ananda belum tahu. Ananda juga bisa mengomentari temannya, jika temannya salah atau temannya menangis. Ananda pasti bertanya, “bu Aliyah, Zaki kenapa?”. Setelah bertanya pasti ananda berkata kepada temannya yang menangis itu, “Zaki.. jangan menangis”. Ananda juga bisa mengajak temannya untuk bermain bersama. Interaksi ananda dengan temannya sudah terbentuk, baik di kelas maupun di luar kelas. Baik ketika KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) ataupun ketika bermain.


Ananda anak yang senang bernyanyi, sebab itu kegiatan Fun Activities yang diperuntukan untuk anak-anak berkebutuhan khusus (ABK), diselipkan kegiatan bernyanyi. Kegiatan ini dibuat untuk menyalurkan bakat ABK yang memang senang bernyanyi. Alhamdulillah, di tahun ajaran 2018-2019 sudah terbentuk School Club untuk ABK. Semua kegiatannya diisi dengan program-program untuk mengembangkan kemampuan ABK. Sekolah sangat mendukung kegiatan Fun Activities ini. Semua yang dibutuhkan pun diberikan oleh sekolah.


Kami sebagai Gisma (Guru Siswa Istimewa), merasa sangat dibantu dengan adanya kegiatan Fun Activities. Kini anak berkebutuhan khusus di Lentera Insan memiliki program yang terjadwal untuk mendukung PPI melalui kegiatan Fun Activities tersebut. Ananda termasuk anak yang sangat semangat ketika kegiatan Fun Activities, terutama ketika kegiatan bernyanyi. Ananda dan temannya Irfan sangat bersemangat ketika bernyanyi. Lagu- lagu yang biasa mereka nyanyikan adalah lagu Upin Ipin. Selain suka bernyanyi, ananda juga suka ketika kegiatan membuat sesuatu (prakarya).

img-1548732168.jpg

Ananda termasuk anak yang aktif. Interaksi dan kemampuan ananda merespon situasi di lingkungan sekitar menunjukkan peningkatan. Walaupun, interaksi tersebut membuat temannya tidak nyaman. Seperti, pada saat kegiatan fun activities bermain pasir, ananda merusak pasir buatan temannya. Tentunya saja temannya menangis. Melihat temannya ananda merespon dengan kalimat, “Byan menangis.. hehe.. bu Aliyah, Byan menangis”. Ah Vino… Vinoo... Vino senang sekali bercanda seperti ini.


Semoga di akhir semester 2 kelas 3 ini, ananda semakin berkembang kemampuannya untuk mengungkapkan keinginannya melalui kata-kata baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Semoga program yang telah berjalan ini akan tetap konsisten dilakukan. Semoga interaksi yang telah terbentuk dapat semakin maksimal. Guru di kelas ataupun luar kelas, serta ibunda ananda selalu mendukung kemampuan bahasa, komunikasi dan sosialnya. Semangat belajar nak, karena kata-katamu emas.