Kisah Muhammad Al Fatih Pemimpin Muda Islam yang Berprestasi
oleh Admin Senin, 21 Mei 2018 Editorial
Kisah Muhammad Al Fatih Pemimpin Muda Islam yang Berprestasi

        Muhammad Al Fatih adalah pemimpin muda Islam yang hidup pada Peradaban Usmani. Kisahnya yang memuat banyak nilai agama termasuk kepemimpinan, pentingnya ibadah dalam Islam, dan strategi perang terbaik sarat makna dan patut dijadikan teladan. Kedatangannya pun sudah diprediksi jauh sebelum dia dilahirkan melalui Hadits Rasulullah, Muhammad SAW. KIsah ini kemudian dipilih menjadi topik utama yang ditampilkan dalam pentas seni Pesona Aca Lentera Insan. Bagaimanakah kisah perjuangannya?

Rasulullah SAW bersabda, Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.

Pada suatu masa di Kota Edirne, ibu kota daulah usmaniah dipimpin oleh seorang raja bernama sultan Murad II. Ia merupakan raja ke 6 daulah Islamiyah. Sultan Murad II sedang menunggu kelahiran putra ketiganya. Ia tengah membaca kitab suci Al-Quran ketika bacaannya terhenti pada surat Al-Fath yang berarti kemenangan. Pada saat itu, terdengar suara tangisan bayi pertanda putranya lahir.

Sultan Murad II memberi nama anaknya Muhammad dan biasa di panggil dengan panggilan Mehmed. Mehmed tumbuh di lingkungan kerajaan dan Mehmed menjadi anak yang manja karena berlindung dibawah payung kebesaran sang sultan.

Sultan Murad II seperti para pemimpin sebelumnya memiliki visi dan memotivasi untuk menakhlukkan kota yang menjadi pusat Kristen timur, Konstantinopel. Yang dalam hadist Rasul dijelaskan kelak akan ditaklukkan kaum muslimin. Janji rasulullah SAW ini sangat ingin diwujudkan oleh Sultan Murad II. Oleh karena itu, sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi pemimpn yang kuat dan tangguh. Sultan Murad II mempersiapkan generasi berikutnya untuk melanjutkan cita citanya yaitu menaklukkan konstantinopel.

Setelah kematian II kakaknya, tinggallah Mehmed harapan terakhir Sultan Murad II. Ia mendatangkan 2 guru terhebat dimasanya yaitu Aq Syamsudin dan Muhammad bin Ismail Al Qur’ani. Mereka ditugaskan mendidik dan mengarahkan Mehmed. Dia mendidik Mehmed sejak usia 2 tahun untuk belajar tentang pemerintahan dan penaklukkan Konstantinopel.

Ditangan guru guru hebat itu Mehmed belajar banyak hal dan berhasil menghafal Al Quran. Mehmed mempelajarai ilmu agama dengan penuh disiplin, mempelajari berbagai ilmu bahasa, kehidupan sosial berbagai suku, mempelajari berbagai ilmu pengetahuan tentang hewan dan tumbuhan. Diapun mempelajari berbagai tenik perang dan astronomi. Mehmed juga mempelajari angkasa raya dan ilmu perbintangan.

Di usianya yang ke 13, Mehmed diangkat menjadi sultan karena sultan Murad II ingin memperbanyak ibadahnya. Namun di tahun yang sama kerajaan Hungaria meghianati perjanjian damai dengan kesultanan dan menyerukan peperangan. Mehmed pun meminta bantuan sultan Murad II untuk kembali memimpin pasukan perang. Sultan Murad tidak memiliki pilihan dia harus memimpin pertempuran. Terjadilah pertempuran pada saat tahun 1444. Sultan Murad II kembali naik tahta dan pertempuran dimenangkan oleh pihak kesultanan.

Walaupun turun dari Tahta, Mehmed tidak pernah menyerah. Dia terus mendekatkan diri dengan pasukan dan memperdalam berbagai bidang ilmu. Dia juga berlatih kuda serta strategi perang dan tak lupa untuk selalu mendekatkan diri pada Allah SWT.

Pada usa 14 tahun, Mehmed diangkat oleh ayahnya menjadi pemimpin sebuah kota penting yaitu kota Manias. Kota ini dikenal sebagai kotanya para sultan, sebab kota ini dijadikan tempat pembelajaran bagi para pangeran yang akan menaiki tahta. Sejak saat itu, Mehmed meninggalkan istana sultan Murad  yang merupakan tempat kelahirannya di Edirne.

Semangat jihad pada diri Mehmed tertanam laksana pohon yang berakar serabut dan buahnya tumbuh melalui tindakan geraknya darah ahli perang mengalir deras dalam urat nadinya. Hal ini berpadu dalam ideologi Islam yag menyatu dengan jasadnya. Selang beberapa tahun, Mehmed II telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang tangguh. Dia menjadi kesatria Islam yang menjadikan ridho allah sebagai tujuan hidupnya.

Ketika Mehmed beranjak dewasa, ayahandanya sultan Murad II meninggal dunia. Mehmed dan pasukan segera menuju Edirne. Dia menemui jenazah sang ayah untuk terakhir kalinya. Kematian ayahnya membuat Mehmed dinobatkan sebagai sultan mennggantikan ayahnya. Kabar wafatnya sultan Murad II dan pelantikan sultan Mehmed sampai ke telinga Raja Heraclius, penguasa Konstantinopel. Beliau kemudian mengirimkan ucapan selamat dan dukacita serta menawarkan perjanjian damai antara Usmani dan Konstantinopel. Sultan Mehmed menerima perjanjian damai tersebut.

Dilantiknya Sultan Mehmed menjadi perbincangan diberbagai kalangan. Banyak kalangan yang meremehkan kepemimpinannya dan membandingkannya dengan sang Ayah. Bersamaan dengan itu, Vatikan dan bangsa Roman termasuk Paus dan pengikutnya merasa khawatir jika Sultan Mehmed akan menyelesaikan misi Ayahnya merebut Konstantinopel dan menuju Roma setelahnya. Namun, mereka meragukan kemampuan Sultan Mehmed dalam memimpin. Mereka berencana menawarkan Konstantinopel bantuan agar pengikut kaum Orthodoks Konstantinopel bergabung dan mengikuti kepercayaan mereka sekaligus mengancam Sultan Mehmed dengan menggabungkan kekuatan.

Di sisi lain, surat perjanjian damai yang dikirimkan Kaisar Heraclius kepada Sultan Mehmed ternyata sebuah kebohongan. Konstantinopel mengirimkan surat lain kepada  pengikut Sultan Mehmed yang berniat berkhianat yaitu Ibrahim Pasha untuk memberitahu bahwa Paus dan Halil Pasha mendukung pemberontakan dan mengiginkan Pangeran Orhan menjadi Sultan. Namun rencana mereka digagalkan oleh Hasan yang merupakan tangan kanannya sultan Mehmed. Ia berhasil merebut surat tersebut dan memberikannya kepada Sultan Mehmed. Penghianatan ini membuat kecewa Sultan Mehmed. Dia kemudian semakin yakin dengan tujuannya untuk menakhlukkan Konstantinopel. Ia memerintahkan Halil Pasha untuk membangun sebuah benteng dekat dengan Konstantinopel.

Pembangunan benteng baru di Rumelia membuat Kaisar Heraclius marah besar.  Ia memerintahkan Adipati Notaras untuk meminta Urban seorang ahli meriam untuk bekerja sama.  Namun,   Urban menolaknya, penolakan Urban membuat nyawa puterinya terancam. Mereka kemudian melarikan diri dari kaisar Heraclius. Kabar tentang Urban dan puterinya, Era yang berhasil melarikan diri sampai kepada Kaisar Heraclius, bersamaan dengan kabar kekalahan adik Kaisar di Mora oleh pasukan Sultan Mehmed. Hal ini membuat Kaisar Heraclius   berencana menerima bantuan  Paus dan Roman.

Kaisar Heraclius merasa terdesak dengan keunggulan Sultan Mehmed. Ia menerima bantuan Paus dan Roma tanpa memikirkan akibatnya bagi rakyat Konstantinopel. Kaisar bahkah memilih seorang kesatrian Roman yang bernama Giustiniani sebagai pemimpin pasukan perangnya. Di lain tempat, Sultan Mehmed justru sibuk mempersiapkan serangannya kepada Konstantinopel.

Sultan Mehmed dan pasukannya membuat benteng selama kurun waktu 5 bulan untuk mencegah bantuan datang dari selatan kepada Konstatinopel. Setiap kapal yang menerobos   langsung dihancurkan dengan meriam. Setelah persiapan rampung,  Sultan dan pasukan bersiap menuju tanah pertempuran.

Sultan Mehmed membawa 250.000 orang tentara, puluhan meriam, dan meriam Gergasi Sultan hasil karya Urban. Meriam ini merupakan sebuah meriam raksasa pada zamannya   yang diberi nama BASILICA. Sesampainya di sana, Sultan Mehmed langsung mengumpulkan para kesatrianya. Genderangpun ditabuh, para prajurit bersiap memulai peperangan, begitupun pasukan musuh. Perangpun tak terelakkan. Setelah Sultan memberikan isyarat untuk menyerang kepada ketua prajuritnya,  pasukan panah pun   mengikuti lemparan meriam kecil pasukan Sultan, disusul serangan dari meriam BASILICA.

                Perang demi perang berlangsung selama berminggu-minggu,  kegagalan demi kegagalan   harus diteguk Sultan Mehmed dan para pasukannya. Selama 40 hari sudah peperangan berlangsung,  tapi pasukan Sultan Mehmed   belum juga dapat menjebol tembok Konstantinopel.   Hal ini memicu perdebatan internal dalam pasukannya.  

                Melihat hal ini, sultan Mehmed menjadi bimang dan sedih. Akan tetapi, gurunya kemudian datang menemuinya. Gurunya, A’aq Syamsudin menemui sultan di tendanya. A’aq syamsudin kemudian mengajak sultan Mehmed ke suatu tempat  yang tak jauh dari tembok konstantinopel.   Ia menunjukkan sesuatu   yang ia lihat di dalam mimpinya.   Berjalanlah terus mereka   hingga menemukan apa yang mereka cari. Mereka bertemu dengan makan pejuang penakhlukan konstantinopel di masa sebelumnya yang berwasiat untuk dimakamkan disana karena ingin mendengar kemengangan Islam dalam menakhlukkan konstantinopel.   

Konstantin menganggap Sultan tak mampu lagi menyerang setelah kekalahan yang bertubi-tubi.   Mereka merasa sangat senang   dan tak berpikir hal yang mustahil bagi mereka akan terjadi.  Dimalam yang pekat, Sultan memerintahkan untuk memindahkan 72 kapal perang  menggunakan batang-batang pohon yang telah diolesi minyak hewan melalui bukit-bukit dalam waktu satu malam.   Hal ini membuat kegaduhan besar pada pagi hari di Konstantinopel. Mereka tidak menduga bahwa akan terdapat serangan besar dari tempat yang begitu dengan dengan pertahanan yang minim.

Hari itu  sejak 11 abad lamanya konstantinopel berdiri, untuk pertama kalinya dalam sejarah, suara sang imam shalat berkumandang masuk, hingga jantung kota Byzantium.   Bergetarlah hati setiap makhluk di dalamnya, tatkala sang pemimpin yang disebutkan Rosululloh S.A.W berteriak kepada prajuritnya untuk menyerang.

Akhirnya konstantinopel berhasil ditakhlukkan oleh sultan Mehmed. Kemenangannya tersebut membuat dia diberi gelar sebagai Al Fatih. Sehingga namanya saat ini dikenal sebagai Muhammad Al Fatih. Kemengannya menunjukkan bahwa Islam telah menemukan pemimpin yang disebutkan dalam sabda Rasulullah  Solawallahu ‘alaihi wassalam.  Konstatinopel telah ditaklukan oleh sebaik-baiknya pemimpin   dan sebaik-baiknya tentara.