Lentera Insan Go International
oleh Admin Senin, 25 Februari 2019 Goresan Lentera Insan
Lentera Insan Go International




Assalamualaikum 안녕하십니까

Nama saya Moch. Taufan. Rekan-rekan guru dan anak-anak murid saya biasa memanggil pak Taufan. Saya mengajar di SD Lentera Insan CDEC sejak tahun 2009. Saya sangat bangga bisa menjadi bagian dari keluarga besar Lentera Insan karena di Lentera Insan saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman, terutama dalam pendidikan Inklusi. Ilmu dan pengalaman tersebut yang pada akhirnya bisa membawa saya  ke Negeri Gingseng, Korea Selatan. Alhamdulillah, segala puja milik Allah SWT Yang Maha Kuasa, karena atas izinNya saya dapat mengikuti program pertukaran guru (Teacher Exchange Program) dari Indonesia ke Korea tahun 2015. Program ini dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober sampai dengan 12 December 2015 oleh Kementrian Pendidikan Korea (Ministry of Education of the Republic of Korea) dengan penyelenggaranya adalah APCEIU (Asia Pacific Centre of Education  for International Understanding) UNESCO yang bekerja sama dengan beberapa negara yang menjadi Partner Country yaitu Indonesia, Malaysia, Philipina, Vietnam, dan Mongolia, melalui Kementrian Pendidikan dari masing-masing negara tersebut.

Tujuan program pertukaran guru ini adalah untuk meningkatkan kualitas guru dalam rangka pendidikan global dan mempromosikan pemahaman saling pengertian dari perbedaan budaya khususnya di negara-negara Asia Pacific  dan membentuk model pengembangan pendidikan multicultural antara budaya yang berbeda.

Program Pertukaran Guru dari Indonesia ke Korea tahun 2015 melalui tahapan-tahapan seleksi peserta guru dari tingkat SD, SMP dan SMA/SMK, terpilih 15 orang yang mengikuti program tersebut. Menjelang keberangkatan, guru-guru terpilih mengikuti pelatihan singkat yang disebut Pre Departure Training, yaitu pelatihan tentang sistem pendidikan di Korea, pengenalan kebudayaan Korea dan persiapan bahan ajar yang akan disampaikan selama program berlangsung dengan membawa misi pendidikan dan kebudayaan Indonesia.

Sesampainya di Korea, saya diberikan kesempatan untuk mengajar di Yumok Elementary School, daerah Changwon, propinsi Gyeoungsangnamdo dekat dari Busan. Hari pertama saya datang ke sekolah tersebut saya disambut dengan sambutan khas mereka, salah satunya adalah “안녕하세요 Taufan 선생님” (Anyonghaseyo Taufan Sonsengnim) yang artinya, “Selamat Datang Pak Guru Taufan”. Selama kurang lebih tiga bulan saya harus mengajar sebanyak 40 kelas, dengan jumlah siswa pada masing-masing kelas ±35-40 siswa. Siswa berkebutuhan  sendiri memiliki kelas khusus dengan jumlah siswa lebih kurang 10 siswa.

    





            Hal yang pertama saya kenalkan tentang Indonesia adalah kebudayaan dan pakaian adat tradisional yang begitu beragam di Indonesia. Sedangkan di Korea hanya pakaian “Hanbok”. Selain itu, saya mengenalkan tarian tradisional Indonesia. Dalam kegiatan ini, saya mengenalkan tarian Indang atau yang lebih popular dikenal dengan sebutan tari Dindin Badindin dari Sumatra Barat. Pada saat mengajar tarian tersebut saya meminta agar anak-anak peserta didik membawa dan memakai pakaian tradisional, “Hanbok”, sedangkan saya memakai pakaian tradisonal Sumatra Barat yang saya beli dari guru tari school club di SD Lentera Insan. Kemudian tarian ini saya kenalkan kepada murid-murid di SD Yumok dengan 4 gerakan sederhana. Walhasil mereka sangat tertarik dan menyukainya. Mereka juga begitu menikmati tarian tersebut dengan riang gembira. Dari tarian yang saya kenalkan inilah, saya dekat dengan salah satu anak berkebutuhan khusus yang bernama Kim Dogyong. Setiap selesai makan siang di cafeteria sekolah, Kim Dogyong selalu menunggu saya untuk berjalan bersama sambil mengobrol menuju ruangan saya, Kim Dogyong semangat sekali bercerita yang tentu saja dengan menggunakan Bahasa korea yang saya sendiri tidak begitu paham apa yang dia bicarakan. Ia terus bercerita kepada saya seakan-akan saya mengerti apa yang dia bicarakan. Terkadang sambil berjalan dia bernyanyi, “Dindin badindin oooooo dindin badindin”, lalu Kim Dogyong mengatakan kalau dia suka pelajaran yang saya ajarkan. Sesampainya di ruangan, saya mengucapkan sampai jumpa lagi, lalu Kim Dogyong mengucapkan, “Najunge payo sonsengnim Taufan”, yang artinya, “Sampai bertemu kembali pak guru Taufan”. Alhamdulillah, ilmu yang saya dapat dari Lentera Insan sebagai guru yang sehari-hari berinteraksi dengan teman-teman berkebutuhan khusus bermanfaat ketika mengajar di Korea.


Pertemuan berikutnya adalah mengenalkan ucapan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam dalam Bahasa Indonesia, Bahasa inggris dan Bahasa Korea. “Anyonghaseyo” adalah sapaan masyarakat korea untuk bertegur sama di setiap waktu dan kapan saja dengan menggunakan gerakan membungkukkan badan. Dari pelajaran ini saya membuat kegiatan, “Culture Exchange”, yaitu kegiatan dokumentasi video yang melibatkan peserta didik dari SD Yumok untuk mengucapkan “Selamat Pagi SD Lentera Insan” dan dari peserta didik SD Lentera Insan untuk mengucapkan “Anyonghaseyo Yumok Elementary School, Gamsahamida”, sehingga teman-teman peserta didik Yumok dan Lentera Insan bisa saling kenal dan bisa bertegur sapa dengan bahasa yang berbeda. Tentunya untuk membuat dokumentasi tersebut, saya bekerjasama dan berkoordinasi dengan guru-guru di SD Lentera Insan.

 Anyonghaseyo merupakan sapaan yang diucapkan teman-teman peserta didik dan guru-guru Yumok dimanapun mereka bertemu. Sapaan inilah yang juga saya terapkan kepada teman-teman peserta didik di Lentera Insan, di manapun dan kapanpun mereka bertemu guru atau memasuki ruangan, mereka terbiasa mengucapkan, “Assalamualaikum”. Kepala Sekolah Lentera Insan, Ibu Elly Trisna Setiawati S. Pd juga selalu mengingatkan kepada kami untuk selalu menerapkan 5S di sekolah kami tercinta SD Lentera Insan, yaitu, Senyum Salam Sapa Sopan Santun sebagai karakter yang ditanamkan sehingga menjadi pembiasaan yang baik.

            Berikutnya saya mengenalkan kegiatan yang menjadi jadwal rutin di sekolah kami SD Lentera Insan yang dilakukan setiap hari Rabu pagi bersama seluruh guru dan peserta didik, yaitu Brain Gym atau Senam Otak. Bagi mereka teman-teman SD Yumok di Korea kegiatan ini termasuk sesuatu yang sangat baru dan mereka sangat senang dengan kegiatan Brain Gym yang saya berikan. Saya mengenalkan 5 gerakan Brain Gym sederhana dengan iringan lagu khas Brain Gym Lentera Insan. Untuk menambah semangat, setelah lancar melakukan seluruh gerakan Brain Gym tersebut, maka gerakan dilakukan semakin cepat sehingga anak-anak terbiasa untuk melakukannya. Alhamdulillah, dengan melihat tutorial gerakan teman-teman dari Lentera Insan, sangat membantu saya dalam mengenalkan Brain Gym kepada teman-teman SD Yumok yang baru pertama kali dilakukan di sekolah Korea tersebut.

Selanjutnya saya juga mengenalkan kepada teman-teman di SD Yumok, tentang makanan tradisional Indonesia yang begitu beraneka macam. Bahkan, ternyata ada beberapa jenis makanan yang memiliki kemiripan antara makanan Indonesia dan Korea, seperti mie ramyeon dan mie instant di Indonesia, teokkbokki (topoki) dengan cilok, bokkeumbap dan nasi goreng. Makanan yang sangat khas di Korea adalah kimchi. Hingga pada akhirnya saya mengenalkan dan memasak salah satu makanan favorit di Indonesia, yaitu tempe. Alhamdulillah, saya menemukan toko yang menjual makanan khas Indonesia. Harga tempe pada saat itu 4000 won atau sekitar Rp. 40.000.

Kegiatan paling seru saat mengenalkan tempe ini adalah ketika saya meminta tutorial video atau dokumentasi dari guru-guru SD Lentera Insan untuk saya berikan ke teman-teman di SD Yumok, sehingga jadilah kegiatan fun cooking dengan tema “tempeyang dilakukan saat kegiatan Pramuka Lentera Insan. Testimoni dari teman-teman SD Yumok ketika memakan tempe untuk yang pertama kali adalah “masissoyo” atau yang artinya “enak”. Menurut mereka rasanya seperti daging ayam, bahkan banyak yang meminta ingin mencicipi lagi makanan yang bernama tempe.

Dalam kesempatan kali ini, saya juga ingin berbagi beberapa link dokumentasi terkait program Teacher Exchange Indonesia Korea 2015:


  1. ;index=5&list=PLd6BPktsGciUpppDnHxGnEgun5eiIRCwv
  2. ;list=PLd6BPktsGciUpppDnHxGnEgun5eiIRCwv&index=3
  3. https://web.facebook.com/media/set/?set=a.10201210502619884&type=1&l=34f2c52f1f
  4. https://web.facebook.com/media/set/?set=a.10201179989617078&type=1&l=fc44c86d6b
  5. https://web.facebook.com/media/set/?set=a.10201156696674769&type=1&l=a936b87d32
  6. https://web.facebook.com/media/set/?set=a.10201158630403111&type=1&l=e6bd02153e
  7. https://web.facebook.com/media/set/?set=a.10201166191072123&type=1&l=822814eb7b
  8. https://web.facebook.com/media/set/?set=a.10201174968171545&type=1&l=9aa470b599
  9. https://web.facebook.com/media/set/?set=a.10201153761321387&type=1&l=fed1082212

            감사 합니다, terimakasih SD Lentera Insan atas dukungannya kepada saya dalam mensukseskan program Teacher Exchange Indonesia Korea. Terimakasih Yumok Elementary School atas sambutan yang begitu ramah kepada saya. Banyak sekali manfaat yang didapatkan dalam program ini, selain pengalaman dan ilmu pengetahuan bertambah, saya juga menikmati proses dalam pertukaran budaya selama tinggal di Korea. Belajar memahami dan menikmati perbedaan budaya yang ada. Tidak menjadikan perbedaan itu suatu masalah yang membuat kita merasa benar sendiri, tetapi perbedaan itu justru menambah wawasan pemahaman antar lintas budaya dan lintas negara. Melalui tulisan ini, saya juga berharap guru-guru SD Lentera Insan dapat mengikuti kesempatan pertukaran guru antar negara, sehingga Lentera Insan dapat terus berjaya hingga kancah dunia.