Lentera Insan untuk Generasi Milenial
oleh Admin Senin, 18 Maret 2019 Goresan Lentera Insan
Lentera Insan untuk Generasi Milenial

            Generasi Milenial merupakan generasi yang tumbuh dan berkembang bersama dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. Menjadi manusia yang biasa-biasa saja, akan sangat tertinggal dengan mereka yang setiap harinya berusaha membuat penemuan untuk kelangsungan hidup umat manusia. Namun untuk menjadi manusia yang canggih pun, mereka harus memiliki beberapa keterampilan dasar yang harus ada pada generasi abad-21. Keterampilan tersebut harus mulai diasah sejak usia dini. Pembentukan karakter dan keterampilan yang mereka miliki salah satunya dipengaruhi oleh tempat mereka menuntut ilmu, sekolah memiliki andil yang cukup besar dalam hal tersebut.

SDIT Lentera Insan, sekolah islam yang memiliki misi mengoptimalkan perkembangan anak melalui berbagai program pendidikan dengan mengintegrasikan nilai-nilai islam di setiap kegiatannya. Sekolah yang hadir untuk mendidik para generasi milenial menjadi generasi yang berkarakter dan berakhlak mulia. SDIT Lentera Insan memiliki tenaga pendidik yang tak pernah kehabisan akal untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna. Metode pembelajaran yang diterapkan tak akan membuat siswa menatap papan tulis seharian, duduk mendengarkan sampai tertidur, atau menghafal materi untuk kemudian dilupakan. Metode yang biasa diterapkan membuat siswa bergerak aktif, tampil percaya diri, berpikir kritis, kreatif, mampu bekerja sama dengan orang lain dan masih banyak hal lainnya. Metode-metode yang dirancang selalu memiliki tujuan untuk mengasah karakter dan keterampilan siswa, sehingga setiap pembelajaran akan sangat bermakna dalam pembentukan karakternya. Di sekolah ini, siswa tak akan merasa dikejar-kejar untuk mendapatkan nilai yang tinggi, tetapi proses pendidikan yang mereka alami akan sangat dihargai dan diamati oleh para tenaga pendidik. Keterampilan dan karakterlah yang sangat difokuskan untuk mempersiapkan mereka menghadapi masa depannya.

Pengetahuan bukan berarti tak penting untuk diasah di sekolah ini. Namun, ketika siswa sudah memiliki keterampilan dari suatu materi, maka secara otomatis pengetahuan terhadap materi tersebut akan mengikutinya. Sebagai contoh pada pembelajaran pengukuran berat benda dengan satuan tidak baku di kelas satu SDIT Lentera Insan, kegiatan pembelajaran pada materi pengukuran berat dengan satuan tidak baku tidak disajikan dengan metode ceramah melainkan menggunakan sebuah alat peraga berupa timbangan lengan. Siswa dapat mempraktikkan langsung penggunaan timbangan lengan setelah guru mendemonstrasikan materi tersebut. Metode konvensional dengan cara ceramah hanya digunakan untuk menguatkan pemahaman siswa dan memberikan kesimpulan atau informasi dari kegiatan pembelajaran yang baru saja dilakukan. Hal itu bertujuan agar siswa dapat memahami materi lebih dalam lagi dan tak hanya sekedar pemahaman yang didapat, tetapi juga keterampilan dalam menggunakan alat ukur pengukur berat.

Dalam membuat alat peraga, guru SD Lentera Insan biasa memanfaatkan alat-alat sederhana yang mudah didapatkan. Seperti yang terlihat pada gambar, timbangan lengan tersebut terbuat dari dua mangkuk plastik yang diikat menggunakan pita pada sebuah hanger. Dua mangkuk plastik tersebut berfungsi sebagai mangkuk timbangan, hanger digunakan sebagai lengan timbangan dan pita digunakan untuk mengikat mangkuk plastik pada hanger dan mengikat hanger pada suatu cantelan agar dapat menggantung.

Biasanya siswa sangat antusias mengikuti pembelajaran jika mereka sudah melihat ada media ajar atau alat peraga yang akan digunakan dalam pembelajaran. Mereka bersemangat ingin segera mencoba langsung alat peraga yang sudah dipersiapkan. Namun sebelum menggunakan alat peraga, guru harus memberikan pemahaman dasar dari materi yang akan dipelajari kepada para siswa terlebih dahulu.  Guru dapat menggunakan metode tanya jawab atau pull and push information, yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman awal siswa terhadap materi yang akan dipelajari dan memberikan pengetahuan baru yang akan menambah pemahamannya.

Kegiatan pembelajaran diawali dengan membaca doa sebelum belajar agar kegiatan yang akan dilakukan bernilai ibadah. Siswa kelas satu SD Lentera Insan sudah terbiasa membaca berbagai rangkaian doa sebelum dan sesudah berkegiatan. Mereka membaca doa begitu khusyuk dan tertib. Hanya saja sebagai orangtua mereka di sekolah, guru tetap harus mengawasi dan mengingatkan siswa jika sedang tidak tertib saat berdoa.Biasanya cara guru mengingatkan yaitu dengan memberi apresiasi kepada siswa yang sudah tertib dan meminta seluruh siswa untuk mendoakan yang belum bisa tertib saat berdoa agar bisa lebih tertib lagi seperti yang lainnya.Setelah itu tugas guru adalah mengamati mental status siswa dan memastikan kesiapan seluruh siswa dalam mengikuti pembelajaran. Guru juga mengingatkan untuk fokus berkonsentrasi selama mengikuti pembelajaran. Jika dirasa ada siswa yang tidak bersemangat atau belum siap mengikuti kegiatan maka guru akan mengajak siswa untuk melakukan energizerterlebih dahulu.

Setelah siswa dirasa siap mengikuti pembelajaran, barulah guru melakukan pull information dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dasar yang berkaitan dengan isi materi. Pertanyaan tersebut selain berfungsi untuk menggali informasi dari hasil pengalaman belajarnya, juga digunakan untuk membangun kerangka berpikir yang baru dari pemahaman mereka terhadap materi tersebut. Pada tahap ini siswa akan diberi pertanyaan mengenai berat benda dengan cara mengamati bentuk bendanya terlebih dahulu, sebelum menggunakan alat pengukur berat.

Guru akan meminta siswa membandingkan berat dua buah benda yang terlihat cukup signifikan perbedaannya. Hal tersebut bertujuan agar siswa dapat mengukurnya hanya dengan mengamati bentuk tanpa perlu menimbang. Seperti pensil dengan gunting, hanya dengan sekali lihat siswa sudah dapat memastikan gunting lebih berat daripada pensil. Persamaan persepsi itulah yang diharapkan guru sebelum ke tahap selanjutnya.

Tahap selanjutnya guru akan membuktikan persepsi yang sudah dibangun sebelumnya dengan menggunakan alat peraga. Guru akan mendemonstrasikan cara menggunakan timbangan lengan untuk mengukur perbandingan berat gunting dengan berat pensil menggunakan sebuah timbangan lengan. Berdasarkan persepsi awal dan pengamatan hasil pengukuran dua buah benda tersebut siswa dapatmenarik kesimpulan sendiri ataupun dengan bimbingan dan arahan guru. Guru memberikan arahan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat mereka menyimpulkan hasil pengukuran tersebut. “bagaimana posisi lengan timbangan yang diletakkan gunting di bawahnya?”, “bagaimana berat gunting dengan pensil sebelum ditimbang?”, pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang akan menggiring siswa mendapatkan kesimpulan dari demonstrasi yang baru saja dilakukan.

Benda yang berat akan mengakibatkan lengan timbangan turun atau lebih rendah posisinya dibandingkan dengan lengan timbangan yang memuat benda lebih ringan. Begitupula benda yang lebih ringan dapat ditunjukkan dengan posisi lengan timbangan yang lebih tinggi dibanding lengan timbangan yang memuat benda yang lebih berat. Seperti itulah kesimpulan yang didapat dari hasil demonstrasi pengukuran berat benda dengan satuan tidak baku.

Selanjutnya guru mengulang lagi kegiatan tersebut dengan beberapa contoh benda dan pertanyaan yang berbeda. Pertanyaan yang bervariasi dan lebih sulit dari  yang sebelumnya dapat memastikan tingkat pemahaman siswa terhadap materi tersebut. Jika siswa mampu menjawab berbagai pertanyaan tanpa bantuan dan arahan dari guru, siswa tersebut dapat dipastikan sudah mampu memahami materi dengan sangat baik. Namun jika ada beberapa hal yang tidak dapat dijawab salah satu kemungkinannya adalah karna belum memahami materi dengan cukup mendalam.

Menangani siswa yang belum memahami materi dengan baik bisa dengan mengulang kegiatan tersebut atau tetap melanjutkan kegiatan selanjutnya yang dapat membangun pemahaman siswa lebih jauh lagi terhadap materi yang sedang dipelajari. Kegiatan selanjutnya yang dapat dilakukan yaitu dengan mencoba mengganti benda yang akan diukur beratnya dan melakukan praktik langsung. Mengganti contoh benda kali ini tidak lagi dengan benda yang beratnya terlihat cukup signifikan namun menggunakan benda-benda yang jika dilihat hanya dengan pengamatan mata saja tak akan terlihat perbedaan yang jelas sehingga mengharuskan menggunakan alat ukur untuk mengetahui hasil perbedaan berat kedua benda tersebut. Kegiatan tersebut selain menambah pemahamannya juga akan mengasah kemampuan siswa dalam menggunakan timbangan lengan.

Mengukur perbandingan berat dua buah benda yang tidak signifikan perbedaannya sama dengan langkah-langkah sebelumnya. Guru perlu memastikan terlebih dahulu berat benda yang lebih berat berdasarkan pengamatansiswa dengan cara melihat bentuk bendanya, nantinya guru akan mendapatkan jawaban siswa yang beragam untuk kemudian dibuktikan dengan menimbang kedua benda tersebut. Dari kegiatan ini siswa akan merasa tertarik untuk mencoba mengukur perbandingan berat benda dari benda-benda yang mereka miliki ataupun yang hanya mereka ingin ukur. Seperti membandingkan benda-benda miliknya dengan benda milik temannya. Pada tahap ini hampir seluruh siswa sudah dapat memahami materi dengan baik. Namun untuk menguatkan pemahamannya, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba langsung alat peraga tersebut.

Tahap mempraktikkan langsung merupakan kegiatan yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa. Terpancar semangat dan keceriaan di wajah mereka saat ingin memulai maupun saat melakukan kegiatan tersebut. Sebelum memulai kegiatan, guru memberikan instruksi yang jelas kepada seluruh siswa terkait pelaksaan kegiatan tersebut. Guru juga memberikan lembar kerja untuk mencatat hasil pengukuran perbandingan berat benda yang sudah mereka ukur. Pemberian lembar kerja ini bertujuan agar siswa tetap merasakan esensi dari belajar namun lebih menyenangkan, bukan hanya kegiatan bermain dan bersenang-senang tanpa ada tujuan yang lain.Pada kegiatan ini, siswa diminta untuk mengisi data diri di dalam lembar kerja yang sudah guru berikan. Siswa yang sudah selesai mengisi data diri bisa langsung mengambil dua benda yang mereka ingin ukur perbandingan beratnya. Setelah membawa dua benda siswa segera mengukurnya pada timbangan lengan, siswa juga diingatkan untuk berbaris yang tertib menunggu giliran saat alat peraga tersebut masih digunakan oleh temannya. Selesai menimbang siswa kembali ke tempat duduknya untuk mencatat hasil pengukurannya pada lembar kerja. Siswa melakukan kegiatan tersebut sebanyak tiga sampai lima kali pengukuran dengan benda-benda yang berbeda.

Pada tahap praktik langsung posisi guru harus berada di dekat alat peraga untuk memastikan kemampuan dan membimbing siswa dalam menggunakan alat peraga tersebut. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan guru, seluruh siswa sudah mampu melakukan pengukuran berat benda dengan cukup baik. Beberapa kali juga terlihat siswa mampu membantu temannya menggunakan alat peraga ketika temannya merasa kesulitan dalam meletakkan benda maupun saat membaca hasil pengukurannya. Tak hanya itu, saat mengisi lembar kerja pun beberapa siswa sudah berinisiatif membantu temannya yang masih kesulitan dalam hal tulis menulis. Masalah yang mereka alami dipercobaan pertama hanya soal kejelian dalam membaca lengan timbangan mana yang turun jika berat benda yang diukur tidak signifikan perbedaannya. Guru juga memberi tahu jika lengan timbangan sejajar atau tidak ada yang berubah posisi menandakan berat kedua benda tersebut sama besarnya.Setelah diberi arahan cara membaca timbangan lengan yang benar, siswa sudah mampu melakukannya dengan benar dan mandiri dipercobaan selanjutnya.

Dalam melakukan percobaan secara langsung siswa juga diberikan rentang waktu untuk siswa melakukannya. Hal tersebut bertujuan untuk mendidik siswa agar lebih disiplin dan dapat mengatur waktu dengan baik, sehingga pada saat itu siswa tidak akan melakukan kegiatan lain di luar pembelajaran. Setelah waktu habis siswa kembali duduk dengan tertib dan mendengarkan guru memberikan kesimpulan dari pembelajaran yang sudah dilakukan. Guru memberikan kesimpulan dengan melakukannya bersama sama dengan seluruh siswa, tentunya dengan metode pull and push information. Kegiatan pun ditutup dengan menanyakan perasaan mereka setelah mengikuti kegiatan tersebut dan ucapan hamdalah yang mengakhirinya.

Dari kegiatan tersebut terlihat jelas tujuan yang ingin dicapai pada setiap kegiatannya. Tak hanya keterampilan menggunakan timbangan lengan untuk mengukur berat benda tetapi pengetahuan siswa terhadap materi tersebut dapat dicapai sekaligus. Karakter siswa yang terus diasah setiap harinya dengan berbagai kegiatan membuat mereka tumbuh menjadi generasi milenial yang berkarakter, memiliki keterampilan dan pengetahuan yang mumpuni serta berakhlak mulia dengan berlandaskan iman dan taqwa.