Mewujudkan Dunia yang Layak Bagi Anak
oleh Admin Minggu, 20 Maret 2016 Editorial
Mewujudkan Dunia yang Layak Bagi Anak

Mewujudkan Dunia yang Layak Bagi Anak  
 
Oleh : Dwi

Adakah dunia yang di dalamnya tidak terdapat anak-anak ? 
Apakah dunia ini sempurna tanpa senyum, canda dan tawa anak-anak ? 
jawabnya adalah tidak. 
 
Dunia ini akan hampa, mati dan tidak berdaya tanpa kehadiran anak-anak. Dalam dunia ini, tidak akan pernah tercapai suatu tingkat peradaban yang maju-baik dari sisi ekonomi, teknologi, politik, sosial maupun budaya-tanpa mereka. 
Akan tetapi, anak-anak sering dieksploitasi oleh orang dewasa. Jika kita lihat di sekitar kita banyak anak-anak di bawah umur yang bekerja. Mereka tidak dapat merasakan bangku sekolah dan bermain bersama teman-teman sebaya. Padahal  dalam hati, mereka sangat ingin merasakan indahnya masa anak-anak. 
Namun, lagi-lagi keadaan yang memaksa mereka untuk membuang jauh-jauh impian itu. Masalah seperti itu sudah bukan merupakan hal yang baru. Pemerintah pun rasanya telah banyak mendapat masukan dan saran dari berbagai kalangan untuk mengatasi hal tersebut. 
Namun, entah mengapa sampai sekarang masalah tersebut hanya sebagai wacana dan tidak ada penyelesaian. Anak perlu diberikan dunia yang layak bagi mereka. Dunia bagaimana yang layak bagi mereka? 
 
Dunia yang memberikan kebebasan 
 Kita sering mendengar seorang ibu melarang anaknya untuk melakukan ini-itu. dilarang bermain air, dilarang bermain hujan-hujanan dan dilarang bermain lumpur. Omelan seorang ibu pada anaknya yang melanggar larangan itu sudah sering kita dengar. Mungkin, si ibu khawatir anaknya akan sakit. Memang hal itu beralasan, tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah sudah tepatkah larangan itu ? jawabnya adalah BELUM. 

Masa kanak-kanak merupakan masa yang penuh kegiatan. Mengapa ? karena kebanyakan anak mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi tentang suatu hal yang belum mereka ketahui, sehingga tingkah mereka aneh-aneh -untuk mengobati rasa keingintahuan itu. Namun, kebanyakan orang tua tidak memahaminya. Jika  melihat anak-anak bermain lumpur, orang tua langsung marah, mungkin karena baju anak menjadi kotor, tetapi apalah arti sebuah baju yang kotor dengan aktivitas anak yang berguna ?

Orang tua seharusnya membebaskan anaknya beraktivitas apapun yang mereka inginkan. Tetapi orang tua juga perlu me-ngawasi kegiatan anak. Dalam arti, mengawasi tidak berarti “ membatasi”. Selama anak melakukan kegiatan yang aman bagi mereka, biarkan saja. Tetapi, jika melakukan kegiatan yang membahayakan mereka, cepat berikanperingatan kepada anak tersebut. 
 
Tentu saja dengan memberikan pengertian yang di-“nalari” anak. 
 
Pemaksaan kehendak harus dihilangkan
Jika kita amati dari hari ke hari hak anak semakin banyak yang terampas. Sebagai contoh, orang tua sering memaksakan anaknya untuk menjadi “ini” tetapi anaknya lebih suka menjadi “itu”. Karena orang tua merasa menjadi “ini” lebih baik bagi anak, orang tua pun membujuk anaknya. Bahkan, orangtua sering memaksakan kehendak sehingga anak tidak mempunyai pilihan. Dari contoh diatas, orangtua merasa bahwa hanya merekalah yang dapat menentukan yang terbaik bagi anaknya. 
Tetapi orang tua tidak merasakan bahwa apa yang menjadi keinginan mereka justru menjadi beban bagi anak-anak. Karena anak merasa kebebasannya dirampas, mereka tidak dapat menentukan sendiri apa yang mereka inginkan. Sebaiknya, orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih apa yang mereka sukai selama hal itu dirasakan baik. Orangtua cukup memberikan pengarahan saja. Jika dirasakan masih ada yang tidak berkenan di hati orangtua, sebaiknya anak diberikan pengertian secara berkala, tetapi ingat jangan memaksa! Toh, anak akan berkembang dan semakin mengerti apa yang mereka lakukan baik atau tidak bagi mereka.
 
Berikan kebebasan dalam berekspresi
Anak memiliki bakat yang berbeda-beda. Ada anak yang berbakat dalam menyanyi, bermain musik, menulis, menggambar, dan lain-lain. Orangtua harus memberikan kebebasan berekspresi pada anak. Karena hal itu,adalah salah satu cara untuk mengembangkan bakat mereka. Biarkan anak mengekspresikan apa yang ada di dalam hati dan perasaan mereka. Karena jika kita membatasi ekspresi anak, bakat mereka akan terpendam. 
 
Dunia anak yang penuh damai 
Anak selayaknya hidup dalam suasana damai dan bahagia. Karena pertikaian dan konflik membuat anak terusik kebahagiaannya. Mereka membutuhkan dunia yang damai dan aman. Di sekeliling mereka trdapat banyak orang yang mencintai dan menyayangi mereka.  Orangtua harus selalu dekat dengan anak dan tunjukkan pada si anak bahwa orangtua sangat menyayangi mereka. Apapun yang terjadi teruslah berikan dorongan, semangat untuk anak agar mereka lebih percaya diri dalam menghadapi masa depannya. 
Ketika kita bertanya pada anak “ Apa yang kamu sukai ?” jawaban yang diberikan oleh anak adalah dunia impian mereka. Tinggal bergantung pada orangtuanya, bisa tidak mereka mewujudkannya. Setiap anak mempunyai dunia impian yang berbeda-beda, tetapi banyak kesamaannya. 
 
Mereka memerlukan kebebasan berkreasi, berekspresi, berkegiatan dan mengingin-kan hidup yang layak.yang memberi kesenangan bagi mereka tanpa ada kecemasan. 
• Mereka ingin berekspresi yang seluas-luasnya tanpa ada kekangan, paksaan, batasan dan larangan, selama hal itu merupakan kegiatan yang positif bagi anak.
• Mereka ingin terbebas dari kemiskinan dan ingin bersekolah.
• Mereka ingin bermain dengan teman-teman sebaya, tertawa bersama, dan bergembira bersama tanpa ada masalah yang membebani mereka. 
• Mereka ingin disayangi oleh orang-orang di sekeliling mereka. 
• Mereka menginginkan hidup tenang-damai tanpa ada perang. 
Sekarang yang menjadi pertanyaan bagi kita, sanggupkah semua itu terwujud? 
 
@Artikel merupakan dokumentasi Lensa News