Ucapkan....“Bu” !!!
oleh Admin Senin, 11 Maret 2019 Goresan Lentera Insan
Ucapkan....“Bu” !!!

            Namaku Bu Uwhie kisah ini bermula pada tahun 2010 saat aku terpilih menjadi guru pendamping di Kelompok Bermain Lentera Insan - Child Development
and Education Center, sekolah ini merupakan sekolah inklusi dimana anak berkebutuhan khusus dan anak reguler bergabung dalam seluruh kegiatan. Bukan hanya itu sekolah ini juga mengapresiasi siswa dengan beragam kecerdasan mulai dari yang tinggi dan sebaliknya. Keberagaman ini lah yang menjadi nilai tambah dimana setiap siswa dilayani sesuai dengan karakteristik dan kekhasan masing masing. Lentera Insan memiliki tagline Child Development and Education Center yaitu pusat perkembangan dan pendidikan anak selain karena hal yang telah disebutkan tadi juga terdapat klinik terapi dan layanan psikologi. Dibanding sekolah lain yang setaraf yang hanya memiliki satu kekhasan misal sekolah dengan kekhasan agama, sekolah dengan pendekatan psikologi, sekolah dengan lingkungan belajar alam atau sekolah luar biasa di Lentera Insan semua itu di kolaborasi itulah pendidikan inklusif yang tengah berkembang saat ini. Sesuai dengan tujuan Kota Depok yang ramah anak di mana Lentera Insan berada.

            Pertemuan pertama kami Juan nama anak itu ia anak yang istimewa saat itu usianya sudah 7 tahun. Dia merupakan murid pertama yang akan aku ajar saat aku memutuskan untuk menjadi guru di KB - TK Lentera Insan CDEC. Setelah mendapat pembekalan yang cukup pada masa orientasiku sebelum mengajar langsung dihadapan anak-anak sekolah Lentera Insan serta ilmu yang ku dapat semasa kuliah dengan latar belakang Pendidikan Anak Usia Dini, tibalah hari pertama pertemuan antara aku dan Juan di sekolah. Pekan pertama sekolah dibuat sedemikian menyenangkan. Guru - guru mempersiapkan permainan dan kegiatan yang menarik bahkan ada juga yang memakai kostum sesuai tema. Kesan pertama haruslah menyenangkan begitupun dengan ku senyum lebar ku persiapkan untuk bertemu dengan Juan hari ini aku berkata pada diriku sendiri kalau “aku siap !”.

            Satu persatu anak-anak berdatangan dengan orang tua mereka, hari pertama memang terasa lebih berat baik untukku maupun untuk anak-anak manis yang mulai berdatangan ke sekolah. Hingga keluarlah seorang anak laki-laki dengan perawakan fisik yang putih, tinggi dan hidung yang mancung, ku persiapkan kata-kata untuk menyambutnya. Belum sempat kuucapkan salamku langsung ku dengar suara tangis teriakan dan air mata sambil melompat - lompat dengan tangan dalam gandengan mamanya.

            Pertemuan awal tak seperti yang kuharapkan, aku yakinkan diriku sendiri inilah saatnya. Ku coba tenangkan Juan dengan kata-kataku namun, Juan terus saja menangis hingga hari itu berakhir. Dua pekan berlalu setiap harinya masih saja Juan menangis, jangankan untuk menerima kegiatan yang diberikan bahkan untuk makan saja ia tak pernah mau. Berat rasanya disaat anak anak lain ceria bermain Juan memerlukan berminggu minggu untuk beradaptasi.

            Suara tangis yang kudengar setiap harinya ternyata hanya itulah satu-satunya suara yang dapat ia keluarkan. Hasil asesment Juan menunjukkan kalau dia penyandang autisme dan non verbal, yaitu suatu keadaan yang menggangu perkembangan dan kemampuan berbicaranya. Bentuk komunikasi yang Juan berikan selain dengan tangisan yaitu dengan menarik tangan orang lain dan menunjuk. Salah satu unggulan sekolah ini yaitu memberikan pelayanan psikologis. Bagi orang tua dan murid sekolah Lentera Insan yang memerlukan bantuan psikolog profesional sekolah kami menyediakannya. Setiap perkembangan sangat diperhatikan disini setiap kenaikan atau penurunan sikap dan hasil belajar memiliki catatan sendiri dan akan di komunikasikan kepada orang tua.

            Ku mulai berikan target-target yang harus dicapai oleh Juan selama di sekolah. Beberapa konsep dasar kusesuaikan dengan kemampuan anak Kelompok Bermain seperti mengenal warna, angka 1-10, ukuran besar kecil dan yang paling penting adalah merangsang kemapuan berbicaranya. Seluruh kemampuan seperti kemampuan motorik kasar, halus, kemandirian, pemahaman, keterampilan diri, konsentrasi dan atensi harus ditingkatkan secara maksimal. Kurikulum Lentera Insan mencakup berbagai aspek perkembangan dan pertumbuhan setiap kegiatan dirancang untuk menstimulasi aspek keislaman, sikap perilaku emosi dan psikomotor. Kurikulum Dinas Pendidikan serta kekhasan sekolah dikombinasi sehingga menghasilkan kegiatan yang sangat menyenangkan sesuai dan bermakna bagi anak. Bahkan untuk anak berkebutuhan khusus seperti Juan diberikan kurikulum pendamping sesuai kemampuan dasarnya kami menyebutnya Program Pelaksanaan Individual (PPI) dan kurikulum adaptasi. sungguh program terpadu yang dibuat secara detail untuk meningkatkan kemampuan anak berkebutuhan khusus.

            
Gambar 1. Juan mengikuti berbagai kegiatan di TK Lentera Insan - CDEC diantaranya latihan mencuci piring dan mengurutkan angka.

            Perjuangan yang sesungguhnya baru ku mulai, Juan harus lebih mandiri yakinku. Hari berlalu setiap kali ku bimbing Juan menyelesaikan berbagai kegiatan di sekolah aku mendapatkan sikap agresif seperti memukul, menjambak dan menarik jilbabku. Hari itu kegiatan menghias topi kerucut di kelas, Juan diminta menempelkan robekan kertasnya pada topi. Ternyata Juan sangat tidak nyaman dengan lem ia berusaha menghindari tugas itu namun terus ku usahakan agar ia dapat menyelesaikannya, ternyata Juan lebih keras menolak akhirnya kudapati bekas gigitan di tangan kiriku. Setelah hari itu itu Juan beberapa kali menggigitku kembali salah satunya di lengan atas. Selain menggigit dalam menyampaikan keinginan Juan juga terkadang gemas sambil meremas lengan dan bahkan menendang dan memukul setiap kali ku minta untuk menyelesaikan tugas hingga selesai. Bagiku ini merupakan tantangan yang besar seringkali kudapati diriku yang hampir menyerah karena keadaan ini menguras emosi dan tenagaku sebagai pendidik baru. Namun setiap ku temukan perubahan sikap kearah yang lebih baik aku selalu meyakinkan diriku sendiri kalau aku sanggup dan Juan juga mampu berubah menjadi lebih baik sesuai dengan targetku.

           Target ku terhadap Juan semakin berfokus ku usahkan agar Juan mampu memahami instruksi ku kemudian mengurangi perilaku agresifnya dan yang juga penting adalah latihan toilet training karena selama ini Juan belum dapat melakukannya. Selain itu gaya berbicara ku dengan Juan ku rubah hanya ku ucapkan kata - kata yang mudah dan jelas sambil ku latih Juan untuk mengulanginya. Aku mencari informasi dari berbagai sumber, Lentera Insan mengizinkan aku untuk terus belajar sebagi pendidik. Terkadang aku pergi keperpustakaan sekolah yang tidak hanya ada buku untuk anak tetapi juga untuk guru, aku juga dapat berkomunikasi dengan mudah bersama tim psikologi untuk menemukan strategi baru. Internet juga telah tersedia di ruang guru lengkap dengan laptop atau komputer. Bahkan aku juga suka sekali belajar dari pengalaman guru - guru lain yang menangani anak berkebutuhan khusus di sesi sharing metode mengajar. Semua hal itu membuat aku semakin kaya informasi, di sekolah ini kami juga bergiliran mendapat pelatihan tentang kependidikan untuk dapat meningkatkan kemampuan para pendidik. Manusia yang utama adalah manusia yang tidak pernah berhenti belajar bukan? guru - guru disini memiliki kemampuan itu.

            Setahun berlalu Juan naik ke TK A bedasarkan hasil pertimbangan pihak terkait dan melihat kemampuan dasar Juan yang berkembang seperti telah nyaman di kelas, mampu mengikuti rutinitas kelas dengan baik dan mampu BAK di toilet.
Alhamdulillah, perilaku agresif sudah jauh berkurang kemampuan lainnya juga mulai terlihat Juan tidak hanya sekolah di TK Lentera Insan tetapi juga ikut beberapa kelas terapi di klinik Lentera Insan. Klinik terapi ini berada di lingkungan sekolah TK jadi aktifitas Juan pagi sekolah dan sore terapi. Namun itu belum cukup kemampuan berbahasa Juan masih sama.

            Pagi itu Juan datang ke sekolah dengan tenang, kuajak Juan ke ruang audio visual untuk mendengarkan lagu kesukaan Juan yaitu Balonku. Juan melompat kesenangan saat kuperdengarkan sambil menunjuk-nunjuk ke komputer. Tiba-tiba kumatikan musiknya, Juan menunjuk-nunjuk kembali komputernya sambil menariknarik tanganku lalu kunyalakan kembali. Beberapa kali kulakukan Juan menunjukkan sikap yang sama lalu ku katakan pada Juan jika ingin dinyalakan musiknya katakan “bu”. Aku bertujuan untuk meningkatkan kemampuan wicaranya hari itu andai saja ia dapat mengikuti instruksiku meski hanya kata yang sangat sederhana yaitu "bu". Berkali-kali kulakukan hal yang sama hari itu ku nyalakan lalu ku matikan kembali hingga Juan menagis sambil melompat dan berteriak. Hingga ia mendekatikau lalu kembali kuminta untuk katakan “bu”. Mulutnya terbuka dan mulai membentuk kata “u” tanpa suara dalam waktu yang cepat, semakin ku arahkan Juan untuk mengulanginya kembali hingga terdengar dengan lirih kata “bu” dari mulutnya..alhamdulillah. Ku angkat Juan dan bertepuk tangan serta memujinya, di ruang itu hanya ada aku dan Juan merayakan keberhasilan kami. Meski hanya sepenggal kata "bu" itu membuat aku semakin yakin kalau inilah awal mula Juan untuk meningkatkan kemampuan berbicaranya.

            Perjuangan ku dan Juan belum berhenti hingga 4 tahun lamanya Juan belajar di TK Lentera Insan, Juan sempat dua tahun di TK B untuk lebih mematangkan kemandiriannya. Keadaanya sekarang memang berbeda kini aku menjadi guru kelas untuk kelas TK B bukan guru pendamping untuk Juan seperti sebelumnya, namun Juan tetaplah salah satu murid berkebutuhan khusus yang istimewa di mataku. Darinya aku belajar mengenai arti mendidik sesungguhnya mengajar merupakan proses yang indah dan hasil bukanlah satu-satunya tujuan melainkan pengalaman menyenangkan dan mendalam bagi guru dan muridlah yang akan terkenang selamanya. Sebagai seorang pendidik akupun bangga menjadi bagian di Lentera Insan.

            Terima kasih kepada sekolah Lentera Insan yang telah membuka kesempatan seluas-luasnya untuk anak-anak berkebutuhan khusus seperti Juan dan anak anak lainnya untuk bersekolah secara formal dan bergabung bersama. Kehadiran mereka memberi warna tersendiri, kebaikan datang bukan hanya untuk anak berkebutuhan khusus tetapi juga untuk anak lainnya mereka jadi lebih memiliki sifat empati terhadap orang lain karena sangat beragamnya murid di dalam setiap kelas.

            Selamat berjuang teman gapailah cita mu....!!!!